Kalau biasanya olahraga identik dengan bola, raket, atau adu kecepatan manusia, Mongolia punya kompetisi yang bikin orang auto melongo. Namanya Golden Eagle Festival, sebuah festival sekaligus ajang kompetisi tradisional yang digelar di wilayah Bayan-Ölgii, Mongolia bagian barat. Di sini, yang jadi “atlet” bukan cuma manusia, tapi juga burung elang emas yang sudah dilatih sejak lama oleh para pemburu elang dari masyarakat Kazakh Mongolia. Tradisi berburu menggunakan elang ini sudah diwariskan antargenerasi dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Kazakh di kawasan tersebut. Para pemburu yang dikenal sebagai bürkitshi membawa elang mereka ke arena, lalu menunjukkan kemampuan burung tersebut dalam merespons panggilan, terbang dari tempat tinggi, menemukan pemiliknya, hingga mengejar umpan. Jadi, jangan bayangkan kompetisinya seperti olahraga modern biasa. Di sini ada kombinasi antara kemampuan manusia, kecerdasan burung, ketangkasan berkuda, sekaligus tradisi masyarakat nomaden yang masih bertahan di tengah dunia modern.
1. Elang benar-benar menjadi bagian utama kompetisi
Salah satu bagian paling menarik adalah ketika elang dilepaskan dari area tinggi lalu dipanggil oleh pemiliknya. Kecepatan dan ketepatan burung saat kembali ke tangan pemburu menjadi salah satu kemampuan yang dinilai. Ada juga kompetisi yang menguji kemampuan elang mengejar umpan yang ditarik oleh penunggang kuda.
2. Bukan sekadar adu burung, tapi adu kerja sama
Hubungan pemburu dan elang menjadi faktor penting. Burung harus mengenali suara, gerakan, bahkan pola panggilan pemiliknya. Sementara itu, sang pemburu harus tahu kapan dan bagaimana memberi instruksi. Jadi, kalau komunikasinya gagal, performanya juga bisa berantakan.
3. Penunggang kuda juga ikut diuji
Kompetisi ini nggak cuma soal elang. Para peserta juga menunjukkan kemampuan berkuda dan mengikuti sejumlah permainan tradisional. Ada parade berkuda, panahan, hingga permainan khas masyarakat Kazakh yang membuat festival terasa seperti perpaduan olahraga, budaya, dan pertunjukan.
4. Tradisinya masih diteruskan generasi muda
Yang bikin menarik, budaya ini nggak berhenti di generasi tua. Anak muda juga mulai terlibat sebagai pemburu elang. Bahkan, sosok seperti Aisholpan pernah mencuri perhatian dunia setelah memenangkan kompetisi Golden Eagle Festival saat masih berusia 13 tahun.
5. Festival ini justru dibuat untuk menjaga tradisi tetap hidup
Golden Eagle Festival pertama kali digelar pada 2000 dan sejak awal punya misi untuk memperkenalkan sekaligus mempertahankan seni berburu menggunakan elang agar nggak hilang ditelan zaman. Tradisi falconry masyarakat Kazakh Mongolia kemudian mendapat pengakuan sebagai warisan budaya takbenda UNESCO pada 2010.
Kalau dilihat dari sisi ilmiah, penggunaan elang emas sebagai partner berburu sebenarnya masuk akal banget. Elang emas (Aquila chrysaetos) punya penglihatan yang sangat tajam, cakar kuat, kemampuan terbang cepat, serta kemampuan membaca pergerakan mangsa dari ketinggian. Faktor biologis inilah yang membuat burung tersebut cocok digunakan untuk membantu pemburu di kawasan pegunungan dan padang terbuka. Dari perspektif urban, tradisi ini juga menarik karena menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan hewan nggak selalu berbentuk peliharaan seperti yang biasa kita lihat di kota. Di Mongolia, hubungan tersebut berkembang menjadi sistem kerja sama yang membutuhkan latihan, kesabaran, dan kepercayaan. Bahkan dalam praktik tradisionalnya, elang tidak diperlakukan sekadar sebagai alat. Para pemburu membangun ikatan dengan burung tersebut selama bertahun-tahun dan sebagian praktik tradisional juga mengenal pelepasan kembali elang ke alam setelah masa berburu selesai. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, pola hubungan seperti ini terasa cukup kontras karena memperlihatkan bagaimana pengetahuan ekologis dan keterampilan manusia bisa diwariskan lewat keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pada akhirnya, Golden Eagle Festival bukan cuma kompetisi unik dengan elang sebagai bintangnya. Ini adalah cara masyarakat Kazakh di Mongolia mempertahankan identitas, keterampilan, dan hubungan mereka dengan alam agar tetap relevan di zaman sekarang.