Kalau dilihat sekilas, kemampuan atlet selam bebas atau freediver menahan napas selama beberapa menit memang terasa seperti skill yang nggak masuk akal. Saat orang biasa menahan napas sebentar saja sudah mulai merasa sesak, atlet freediving justru bisa tetap tenang ketika berada di bawah air dalam waktu yang jauh lebih lama. Fenomena ini bukan cuma soal keberanian atau sekadar punya paru-paru besar. Tubuh mereka mengalami kombinasi adaptasi fisiologis, latihan pernapasan, kontrol mental, dan respons alami manusia terhadap air. Atlet seperti Alexey Molchanov dikenal sebagai salah satu freediver elite yang mampu menyelam sangat dalam dengan mengandalkan kemampuan tubuh dan teknik tersebut. Menariknya, ketika wajah manusia menyentuh air, tubuh otomatis dapat memicu apa yang disebut diving response, yaitu mekanisme biologis yang membantu menghemat oksigen agar organ penting tetap mendapatkan suplai selama berada di dalam air.
- Detak jantung bisa melambat. Saat wajah terkena air, terutama air dingin, tubuh dapat memicu bradikardia atau perlambatan denyut jantung. Tujuannya sederhana: mengurangi konsumsi oksigen supaya cadangan yang ada bisa bertahan lebih lama. Pada atlet terlatih, respons ini dapat dimanfaatkan secara maksimal melalui latihan.
- Aliran darah lebih diprioritaskan ke organ vital. Ketika oksigen mulai terbatas, tubuh melakukan pengaturan sirkulasi. Darah lebih dipertahankan untuk organ yang sangat membutuhkan oksigen seperti otak dan jantung, sementara aliran ke bagian tubuh tertentu bisa dikurangi. Jadi, tubuh seolah masuk ke mode hemat energi.
- Paru-paru dan otot pernapasan ikut beradaptasi. Latihan freediving membuat atlet semakin terbiasa dengan sensasi ingin bernapas. Mereka belajar mengontrol kontraksi diafragma dan tetap rileks ketika tubuh mulai memberikan sinyal kuat untuk mengambil napas.
- Mental ternyata punya peran besar. Dorongan untuk bernapas semakin kuat ketika kadar karbon dioksida meningkat. Atlet harus mampu menghadapi sensasi tersebut tanpa panik. Kalau panik, tubuh justru bisa menggunakan oksigen lebih cepat.
- Tubuh bisa beradaptasi terhadap tekanan saat menyelam. Semakin dalam seseorang turun, tekanan air semakin besar. Freediver berpengalaman melatih teknik tertentu agar rongga udara di tubuh tetap dapat menghadapi perubahan tekanan tersebut. Ini salah satu alasan mengapa kemampuan menyelam dalam nggak bisa didapat hanya dengan latihan menahan napas biasa.
Secara ilmiah, kemampuan tersebut berkaitan dengan gabungan diving response, efisiensi penggunaan oksigen, dan adaptasi akibat latihan berulang. Salah satu mekanisme yang menarik adalah peripheral vasoconstriction, ketika pembuluh darah di bagian tubuh tertentu menyempit sehingga sirkulasi lebih difokuskan pada organ penting. Ada juga fenomena blood shift ketika seseorang menyelam cukup dalam, di mana darah bergerak ke area pembuluh darah di sekitar paru-paru untuk membantu menghadapi tekanan. Namun, bukan berarti manusia bisa terus menahan napas tanpa batas. Kadar oksigen yang terlalu rendah tetap berisiko menyebabkan kehilangan kesadaran atau hypoxic blackout. Karena itu, kemampuan freediver profesional bukan berarti mereka kebal terhadap kekurangan oksigen, melainkan tubuh mereka menjadi jauh lebih efisien dalam mengelola cadangan oksigen. Dari pandangan urban, hal inilah yang sering bikin freediving terlihat seperti olahraga superpower, padahal sebenarnya tubuh manusia sedang memainkan sistem bertahan hidupnya sendiri.
Pada akhirnya, kemampuan atlet selam bebas menahan napas selama menit-menit panjang bukan sulap dan bukan sekadar latihan paru-paru. Itu hasil perpaduan adaptasi tubuh, teknik, ketenangan mental, serta latihan yang sangat terkontrol.