Kalau pernah nonton pertandingan baseball profesional, terutama Major League Baseball (MLB), ada satu kebiasaan pemain yang cukup bikin penasaran: mereka sering terlihat mengunyah permen karet saat pertandingan berlangsung. Bukan cuma satu-dua pemain, tapi kebiasaan ini sudah cukup melekat dalam budaya baseball. Dari pemain yang sedang menunggu giliran memukul, berdiri di outfield, sampai pemain yang nongkrong di dugout, permen karet sering terlihat menemani mereka. Salah satu alasan paling masuk akal adalah karena baseball punya tempo permainan yang relatif panjang dan banyak momen menunggu. Pemain bisa saja harus berdiri atau duduk cukup lama sebelum kembali terlibat dalam permainan. Nah, mengunyah permen karet dianggap bisa membantu pemain tetap melakukan aktivitas ringan sambil menjaga fokus. Kebiasaan ini juga bukan sekadar gaya atau aksesori biar kelihatan santai. Ada kombinasi faktor psikologis, kebiasaan, dan kenyamanan yang membuat permen karet bertahan sebagai bagian dari kultur baseball sampai sekarang.
1. Membantu pemain tetap fokus saat banyak momen menunggu
Baseball berbeda dengan olahraga yang hampir nonstop. Pemain bisa punya jeda cukup panjang sebelum kembali melakukan aksi. Mengunyah sesuatu menjadi aktivitas kecil yang bisa membantu mereka tetap merasa “aktif” dan tidak gampang kehilangan konsentrasi.
2. Bisa membantu mengurangi rasa tegang
Situasi pertandingan profesional jelas bisa bikin tekanan mental naik, apalagi ketika skor ketat atau pertandingan memasuki inning-inning akhir. Aktivitas mengunyah yang repetitif dan sederhana dapat terasa menenangkan bagi sebagian orang.
3. Menjadi bagian dari rutinitas pemain
Dalam olahraga profesional, rutinitas kecil sering dianggap penting. Ada pemain yang punya kebiasaan tertentu sebelum memukul atau saat berada di lapangan. Permen karet bisa menjadi salah satu rutinitas yang membuat pemain merasa lebih nyaman dan familiar dengan situasi pertandingan.
4. Membantu mulut tidak terasa kering
Pemain baseball bisa berada di lapangan selama berjam-jam, terutama ketika pertandingan berlangsung lama. Mengunyah permen karet dapat merangsang produksi air liur sehingga mulut terasa lebih nyaman. Karena itu, kebiasaan ini juga punya alasan praktis, bukan cuma soal gaya.
5. Bikin pemain tetap santai tanpa kehilangan kewaspadaan
Dari luar, pemain yang mengunyah permen karet mungkin terlihat santai banget. Namun, santai bukan berarti tidak fokus. Justru bagi sebagian pemain, gerakan mengunyah yang monoton bisa menjadi semacam aktivitas latar belakang sambil mata dan pikiran tetap mengawasi permainan.
Secara ilmiah, mengunyah memang bukan aktivitas yang sepenuhnya netral terhadap tubuh. Gerakan mengunyah dapat merangsang produksi saliva dan melibatkan aktivitas otot rahang secara berulang. Beberapa penelitian juga pernah mengaitkan chewing gum dengan perubahan kecil pada tingkat kewaspadaan, perhatian, atau respons terhadap stres, meskipun efeknya tidak bisa dianggap sebagai “penambah performa” yang pasti untuk semua orang. Dari sudut pandang urban, kebiasaan pemain baseball mengunyah permen karet lebih menarik kalau dilihat sebagai gabungan antara fungsi dan budaya. Pemain tidak sedang mengunyah karena percaya permen karet bisa membuat lemparan lebih cepat atau pukulan lebih keras. Mereka menggunakannya sebagai kebiasaan kecil untuk menemani pertandingan yang panjang, menjaga mulut tetap nyaman, sekaligus membantu menciptakan suasana mental yang familiar. Bahkan, ketika sebuah kebiasaan dilakukan berulang kali selama bertahun-tahun, kebiasaan tersebut bisa berubah menjadi bagian dari identitas olahraga itu sendiri.
Jadi, kalau melihat pemain baseball profesional mengunyah permen karet saat bertanding, jangan buru-buru menganggap mereka cuma sedang santai. Di balik kebiasaan sederhana itu ada kombinasi kenyamanan, rutinitas, fokus, dan budaya baseball yang sudah berkembang cukup lama.